Madeleine Homan Blanchard
Apa sebenarnya arti menjadi pemimpin yang luar biasa? Dan apakah kebutuhan seorang pemimpin di masa depan akan berbeda dibanding hari ini?
Jawabannya bisa iya, sekaligus tidak. Di dunia leadership development, organisasi terus berusaha membentuk pemimpin yang mampu menghadapi tantangan masa depan. Namun, jika diperhatikan, ekspektasi terhadap seorang leader sekarang semakin besar dan kompleks.
Pemimpin diharapkan mampu bersikap empati tanpa kehilangan kemampuan menjaga akuntabilitas. Mereka dituntut mendorong performa tinggi tanpa membuat tim mengalami burnout. Mereka harus rendah hati, tetapi tetap cukup tegas saat situasi membutuhkan keputusan yang kuat. Pemimpin juga dituntut fleksibel, tetapi tidak terlalu mudah berubah arah. Mereka harus mampu mengantisipasi masalah sebelum terjadi, namun tetap dapat mengambil keputusan cepat ketika keadaan berubah secara mendadak.
Kini ada tambahan tuntutan baru: memahami AI dan teknologi, sambil memastikan orang-orang di dalam tim tidak menjadi terlalu bergantung pada teknologi tersebut. Tanpa disadari, ekspektasi terhadap pemimpin mulai terasa seperti membangun sosok “superhero”. Seolah-olah seorang leader harus mampu melakukan semuanya dengan sempurna.
Padahal, yang sebenarnya semakin dibutuhkan di masa depan bukanlah sosok yang sempurna, melainkan sosok yang memiliki wisdom atau kebijaksanaan.
Wisdom: Kemampuan yang Akan Menjadi Pembeda
Wisdom sering dianggap sebagai konsep yang abstrak. Namun dalam konteks kepemimpinan, wisdom adalah kemampuan untuk menggunakan pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman secara tepat dalam mengambil keputusan.
Wisdom membantu seseorang melihat lebih dalam dari sekadar permukaan masalah. Wisdom membuat pemimpin mampu bertahan di tengah ambiguitas, menyeimbangkan berbagai kepentingan yang saling bertabrakan, dan tetap bertindak berdasarkan integritas.
Seorang pemimpin yang memiliki wisdom biasanya menunjukkan beberapa karakteristik penting.
- Pertama, mereka memiliki kemampuan menilai situasi dengan baik, terutama dalam kondisi yang rumit dan tidak pasti.
- Kedua, mereka tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkannya secara efektif dalam situasi nyata.
- Ketiga, mereka mampu mengelola emosi dengan baik. Mereka tidak bereaksi hanya karena dorongan sesaat, tetapi bertindak berdasarkan prinsip dan pertimbangan yang matang.
- Keempat, mereka mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi, kebutuhan tim, dan kepentingan organisasi secara keseluruhan.
- Dan yang terakhir, mereka memiliki perspektif yang luas sekaligus kerendahan hati untuk menyadari bahwa mereka tidak mengetahui semuanya.
Wisdom membuat seorang pemimpin mampu mengambil keputusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga benar dalam jangka panjang.
Selama ini, banyak organisasi menginvestasikan waktu dan biaya yang besar untuk mengembangkan kemampuan pemimpin melalui training dan pembelajaran formal. Program-program tersebut sangat penting dan memberikan banyak pengetahuan baru.
Namun ada satu hal yang sering terlewat: memahami sesuatu tidak otomatis membuat seseorang berubah. Seseorang bisa mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi tetap kembali pada kebiasaan lama. Otak manusia memang cenderung memilih pola yang familiar dibanding pola baru yang terasa tidak nyaman.
Karena itu, perubahan perilaku tidak cukup hanya dengan insight atau motivasi sesaat. Dibutuhkan proses yang jauh lebih dalam. Pemimpin perlu memiliki tujuan perubahan yang spesifik, alasan pribadi yang kuat untuk berubah, serta konsistensi untuk terus mengulang perilaku baru meskipun terasa sulit.
Mereka juga perlu memiliki keberanian untuk melakukan kesalahan, menghadapi rasa tidak nyaman, lalu mencoba lagi.
Di Sinilah Coaching Menjadi Penting
Training membantu pemimpin mendapatkan pengetahuan baru. Namun coaching membantu mereka memahami bagaimana menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan nyata.
Coaching bukan sekadar memberi saran. Coaching membantu seseorang melihat dirinya dengan lebih jujur. Membantu mereka memahami pola pikir, keyakinan, dan asumsi yang selama ini mungkin membatasi cara mereka memimpin.
Percakapan seperti ini membutuhkan waktu, kepercayaan, dan ruang yang aman. Dibutuhkan seseorang yang benar-benar mendengarkan, mampu melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan membantu pemimpin menghadapi percakapan yang sulit tentang dirinya sendiri.
AI mungkin dapat membantu sebagian proses pengembangan. AI bisa memberi pengingat, menyusun target, atau membantu memberikan rekomendasi tindakan. Namun AI tidak bisa menggantikan proses manusiawi yang dibutuhkan untuk membangun wisdom.
Wisdom berkembang melalui pengalaman, refleksi, kesalahan, dan keberanian untuk terus belajar dari semuanya. Pada akhirnya, masa depan tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna. Masa depan membutuhkan manusia yang terus bertumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Dan kemungkinan besar, itulah yang akan menjadi pembeda terbesar bagi future leaders di masa depan.