Blanchard Associate
Keeping Your Best People from Resigning During the Great Resignation
Mengundurkan diri untuk pekerjaan baru kini jadi hal yang lumrah.
Hampir 4 juta orang Amerika mengundurkan diri dari posisinya pada Juni 2021.[1] Gelombang turnover berikutnya juga terlihat di depan: sekitar 40% tenaga kerja global “mempertimbangkan untuk meninggalkan pemberi kerja mereka pada tahun berjalan,”[2] sementara “95% pekerja sedang memikirkan perubahan pekerjaan.”[3]
Besarnya turnover ini bersifat historis. Rekor 10,9 juta lowongan pekerjaan tercatat pada akhir Juli 2021.[4]
Pandemi memicu gejolak ini. Orang Amerika meninjau ulang prioritas mereka karenanya, dan mereka mencari pekerjaan yang menawarkan opsi kerja jarak jauh, rasa pemenuhan yang lebih besar, pengembangan karier, dan fleksibilitas.
Biaya Tinggi dari Turnover
Turnover selalu butuh perhatian Anda—terutama pada momen yang belum pernah terjadi seperti ini. Pertama, turnover sangat mahal bagi perusahaan: 30% hingga 40% dari gaji tahunan untuk karyawan level awal; 150% untuk karyawan level menengah; dan hingga 400% untuk karyawan dengan keahlian tinggi.[5]
Bagaimana dengan biaya turnover yang sulit diukur?
Saat seorang high performer pergi, ikut hilang juga keahliannya, ide-idenya yang cemerlang, dan kontribusinya pada budaya tim. Tren yang lebih mengkhawatirkan adalah para high performer pergi bersama rekan-rekannya menuju tempat yang dianggap lebih hijau.[6]
Tips untuk Membuat High Performer Anda Betah
Menjaga para top performer tetap tinggal di perusahaan Anda pada masa perubahan besar ini sangat krusial. Berikut beberapa tips yang bisa digunakan manajer Anda untuk membantu mereka tetap bertahan.
Beri panggung untuk para high performer
Ini saatnya Anda sebagai manajer membalik skenario. Alih-alih Anda yang memberi tahu high performer apa yang harus dilakukan, tanyakan pada mereka bagaimana mereka bisa mencapai sesuatu yang begitu impresif.
Biarkan mereka berbicara. Biarkan mereka berbagi. Biarkan mereka mengajar rekan-rekannya.
Saat orang membagikan strategi di balik keberhasilan mereka, mereka merasa berenergi dan dihargai. Ini juga meningkatkan kepercayaan diri, memberi keberanian untuk mengambil proyek yang lebih strategis lagi.
Biarkan mereka memilih tantangan baru
Seorang high performer sudah “memenangkan hak” untuk mengeksplorasi. Dorong mereka mengejar proyek yang menarik bagi mereka. Jangan mengkotakkan mereka meski mereka ahli pada tugas penting tertentu.
Tanyakan pada high performer Anda, “Apa yang menarik minat Anda? Bagaimana Anda ingin berkontribusi?” Beri mereka kesempatan untuk menggunakan talentanya.
Ketika high performer Anda mengambil tantangan yang berbeda, mereka akan menjadi pemula yang antusias di awal masa bulan madu, saat kita dipenuhi rasa senang dan antusiasme. Kondisi ini mendorong retensi: saat orang mencintai pekerjaannya, mereka 50% lebih mungkin bertahan di pekerjaannya.[7]
Tunjukkan apresiasi
Beri tahu orang-orang Anda bahwa Anda bersyukur atas kontribusi mereka. Mereka akan makin terlibat dan produktif. Buat kata-kata pujian Anda spesifik jika ingin dampaknya paling terasa.[8]
Jangan berasumsi orang-orang Anda tahu bahwa Anda menghargai mereka. Riset menunjukkan para pemimpin percaya timnya tahu bagaimana perasaan mereka tentang pekerjaan tim, padahal faktanya tidak demikian.[9] Dan ketika orang merasa tidak dihargai, mereka mulai mencari pekerjaan lain.
Karena otak menyimpan data dalam bentuk gambar, bukan kata, ucapan seperti “Kerja bagus! Keren! Mantap!” akan lewat begitu saja.
Agar apresiasi berkesan, Anda perlu menyampaikan apa yang mereka lakukan, bagaimana hal itu bisa dirasakan dampaknya, serta rasa terima kasih atas kemitraan dan upaya mereka. Contohnya: “Saat Anda tetap tinggal setelah rapat untuk menanggapi keraguan klien, Anda memperdalam kepercayaannya dan menunjukkan bahwa kita ingin melampaui harapan pelanggan. Saya sangat berterima kasih atas dedikasi, empati, dan keinginan Anda membantu semua orang sukses. Terima kasih banyak.”
Bantu orang-orang Anda menjaga diri
Hanya karena seseorang high performer bukan berarti ia kebal stres. Mereka bisa begitu sibuk melakukan pekerjaan hebat sampai lupa merawat diri. Lalu suatu hari mereka bangun dan berkata, “Saya tidak bisa lagi.”
Tugas Anda adalah mengingatkan tim bahwa self-care adalah prioritas utama. Berikut praktik yang bisa Anda gunakan untuk menjaga high performer tetap bahagia:
● Adakan walking meeting—bahkan saat virtual. Alih-alih duduk di depan monitor, semua orang menelepon lewat ponsel, memasang earbuds, dan rapat sambil bergerak.
● Tawarkan untuk membelikan sepeda statis atau treadmill bagi yang berminat. Kedengarannya mahal? Tidak jika dibandingkan merekrut orang baru.
● Beri jeda otak di rapat. Minta tim berdiri dan minta seseorang memimpin latihan 5–10 menit. Biasanya selalu ada satu orang yang bisa memimpin. Kalau tidak ada, banyak video kebugaran gratis di internet.
● Beri tahu orang-orang saat Anda merawat diri. Bagikan, “Hari ini saya lari pukul 12.00–13.00.” Jadilah contoh. Bantu orang merayakan self-care.
● Oh, maukah bertahan? Anda dengar seorang high performer ingin pergi. Kenapa tidak tanya, “Apa yang dibutuhkan supaya Anda tetap tinggal?” Tidak ada yang Anda rugikan pada titik ini dan bisa jadi Anda akan senang karena ternyata kebutuhan mereka bisa dipenuhi.
Great Resignation menyebabkan banjir pengunduran diri. Sekarang Anda tahu cara menghentikan gelombang itu dan menjaga orang-orang terbaik Anda.
David Witt adalah Direktur Program Blanchard®. Dia adalah peneliti pemenang penghargaan dan pembawa acara seri webinar bulanan perusahaan. David juga menulis atau ikut menulis artikel di Fast Company, Human Resource Development Review, Chief Learning Officer, dan US Business Review.