Artificial intelligence atau kecerdasan buatan bukan lagi sekadar tren masa depan di dunia kerja. AI sudah hadir dan menjadi bagian dari cara kita bekerja sehari-hari.
Dalam survei terbaru kami terhadap 300 leader dan 300 individual contributor, terlihat jelas bahwa AI sudah mulai tertanam dalam aktivitas kerja sehari-hari. Sebagian besar karyawan mengaku menggunakan AI secara rutin, bahkan lebih dari separuh leader menggunakannya lebih dari sekali dalam sehari. Karyawan menggunakan AI untuk merangkum informasi, membuat draft konten, melakukan riset, mencari ide, dan mempercepat pekerjaan rutin.
Namun, di balik adopsi yang begitu cepat, ada realitas yang lebih kompleks. Organisasi bergerak cepat untuk menggunakan AI, tetapi banyak yang belum memberikan perhatian yang sama pada bagaimana AI mengubah pengalaman manusia dalam bekerja.
Tantangan terbesar organisasi dalam menggunakan AI ternyata bukan hanya soal teknis. Tantangannya juga bersifat kultural. Ini berkaitan dengan tingkat kepercayaan, kredibilitas leader, dan norma yang berkembang di dalam organisasi. Semakin kuat teknologi berkembang, semakin penting pula kemampuan manusia yang tidak mudah digantikan teknologi, seperti judgment atau kemampuan menilai dan mengambil keputusan dengan tepat.
Dari penelitian kami, ada lima hal penting yang perlu diperhatikan oleh para leader.
Insight #1: Adopsi AI Lebih Cepat daripada Terbentuknya Ekspektasi Bersama
AI sudah menjadi bagian dari tempat kerja, dan karyawan mulai merasakan manfaatnya secara nyata. Sebanyak 78% responden mengatakan AI membantu mereka bekerja lebih efisien, sementara hampir separuh pengguna AI mengaku menghemat 26% atau lebih waktu pada pekerjaan yang mereka kerjakan dengan bantuan AI.
Namun, efisiensi tidak otomatis menciptakan rasa percaya diri.
Karyawan mulai terbiasa menggunakan AI untuk mengolah informasi, membuat konten, dan menyelesaikan pekerjaan rutin. Namun, mereka jauh lebih berhati-hati ketika menggunakan AI untuk berpikir strategis, menghadapi percakapan sulit, membuat presentasi, atau mengambil keputusan yang membutuhkan konteks dan judgment.
Polanya cukup jelas. Orang merasa nyaman mendelegasikan tugas kepada AI. Tetapi mereka jauh lebih berhati-hati ketika harus mendelegasikan proses berpikir kritis.
Keraguan tersebut sebenarnya cukup beralasan. Satu dari empat responden mengatakan pernah melihat atau mengalami dampak negatif dari penggunaan AI di tempat kerja. Di antaranya adalah penggunaan output yang keliru, ketergantungan berlebihan pada konten yang dibuat AI, serta terbukanya informasi sensitif.
Ketika AI mengubah cara pekerjaan dilakukan, karyawan dan leader sama-sama merasakan optimisme sekaligus kehati-hatian. Dampak AI terhadap dunia kerja tidak hanya akan datang dari apa yang bisa diotomatisasi, tetapi juga dari bagaimana AI membebaskan waktu manusia untuk mengerjakan hal-hal yang membutuhkan judgment, kreativitas, kolaborasi, dan koneksi antar manusia.
Agar penggunaan AI bisa berkembang dengan baik dan memberikan manfaat secara maksimal, leader perlu melakukan lebih dari sekadar menyediakan akses terhadap tools. Mereka perlu membangun kepercayaan, kemampuan, dan rasa percaya diri dalam menggunakan AI di seluruh organisasi.
Yang tidak kalah penting, leader juga perlu membantu tim memanfaatkan waktu yang tercipta berkat AI agar orang bisa lebih fokus pada pekerjaan yang benar-benar memberikan nilai terbesar.
Di atas semua itu, penelitian kami menunjukkan pentingnya membangun ekspektasi bersama tentang penggunaan AI seiring dengan semakin cepatnya adopsi teknologi ini. Leader memiliki peran penting dalam membentuk ekspektasi tersebut.
Insight #2: Mulai Muncul Stigma Sosial terhadap Penggunaan AI
Salah satu temuan yang paling menarik ternyata bukan tentang teknologinya, melainkan tentang budaya di tempat kerja.
Meskipun AI sudah digunakan secara luas, banyak karyawan menggambarkan lingkungan kerja di mana penggunaan AI masih terasa seperti sesuatu yang tidak sepenuhnya terbuka. Sebagian orang menggunakannya secara terang-terangan. Sebagian lainnya diam-diam menilai orang yang menggunakannya. Ada yang memilih menyembunyikan penggunaannya, sementara yang lain mulai mempertanyakan apakah rekan kerja mereka terlalu bergantung pada AI.
Banyak organisasi memang sudah mulai membuat aturan formal tentang penggunaan AI yang bertanggung jawab. Namun, aturan tersebut belum selalu berubah menjadi norma yang benar-benar dipahami dan diterapkan bersama.
Karyawan masih menghadapi ketidakjelasan tentang bagaimana AI seharusnya digunakan, dibicarakan, diungkapkan, dan dinilai dalam pekerjaan sehari-hari. Bahkan, 65% responden mengatakan mereka pernah melihat orang lain secara halus menilai atau meremehkan rekan kerja karena menggunakan AI.
Hasilnya adalah apa yang kami sebut sebagai AI shadow culture, yaitu kondisi ketika AI sudah digunakan di mana-mana, tetapi belum ada kesepahaman bersama tentang bagaimana teknologi tersebut seharusnya digunakan.
Panduan formal mungkin sudah tersedia, tetapi karyawan masih mencari tahu sendiri seperti apa penggunaan AI yang bertanggung jawab dalam pekerjaan sehari-hari.
Insight #3: Kepercayaan terhadap AI Bergantung pada Konteks
Kepercayaan menjadi salah satu tema paling penting dalam penelitian ini.
Sebanyak 28% responden mengatakan bahwa “merasa bisa mempercayai penggunaan AI” merupakan tantangan terbesar mereka. Ini menjadi tantangan yang paling banyak dipilih dalam penelitian. Menariknya, secara umum karyawan mempercayai leader dan organisasi mereka. Yang belum sepenuhnya mereka percayai adalah ekosistem AI secara keseluruhan.
Mereka secara bersamaan mempertimbangkan tiga pertanyaan:
- Apakah saya bisa mempercayai teknologinya?
- Apakah saya bisa mempercayai aturan yang mengatur penggunaannya?
- Apakah saya bisa mempercayai orang-orang yang menggunakannya?
Yang menarik, karyawan juga tidak menerima begitu saja hasil yang diberikan AI. Sebanyak 82% mengatakan mereka selalu atau sering memeriksa kembali konten yang dibuat AI sebelum menggunakannya. Sementara itu, 69% mengatakan mereka mengedit, memverifikasi, atau menyesuaikan hasil AI sebelum mengandalkannya.
Artinya, karyawan memang menerima AI, tetapi mereka tetap menggunakan judgment mereka sendiri.
Ketika AI semakin melekat dalam pekerjaan sehari-hari, kepercayaan tidak lagi hanya berkaitan dengan apakah teknologinya bekerja dengan baik. Kepercayaan juga berkaitan dengan apakah orang percaya bahwa sistem, perlindungan, dan ekspektasi bersama yang mengatur penggunaan AI dapat diandalkan dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, kepercayaan terhadap AI bukan hanya soal seberapa yakin kita terhadap teknologinya. Ini juga tentang kepercayaan terhadap proses yang mengaturnya, orang-orang yang menggunakannya, serta leader yang memberikan contoh dan secara terbuka mendorong penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Ketika salah satu dari elemen tersebut terasa tidak jelas, kepercayaan mulai menurun.
Insight #4: Ada Kesenjangan Kredibilitas dalam Leadership
Leader dan karyawan sama-sama sepakat bahwa AI akan mengubah dunia kerja. Perbedaannya terletak pada bagaimana mereka melihat peran leader dalam membantu orang menghadapi perubahan tersebut.
Banyak leader merasa bahwa mereka sudah memberikan contoh penggunaan AI dan memberikan panduan yang jelas. Namun, karyawan jauh lebih sedikit yang melihat hal tersebut.
Kesenjangannya cukup besar. Sebanyak 87% leader mengatakan bahwa mereka secara terbuka memberikan contoh dalam penggunaan AI, tetapi hanya 54% karyawan yang setuju. Demikian pula, 83% leader percaya bahwa karyawan memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat dalam keputusan terkait AI, sementara hanya 51% karyawan yang memiliki pandangan yang sama.
Hal ini menciptakan tantangan dalam hal kredibilitas.
Karyawan tidak hanya ingin leader mendorong penggunaan AI. Mereka ingin melihat bagaimana leader menggunakan AI, bagaimana mereka mengevaluasi hasil yang diberikan AI, dan bagaimana mereka menggunakan judgment ketika teknologi tidak sepenuhnya sesuai dengan pengalaman manusia.
Di era AI, kredibilitas leadership bukan lagi sekadar tentang mendorong penggunaan teknologi. Kredibilitas lebih banyak dibangun dari bagaimana leader secara nyata menunjukkan cara menavigasi teknologi tersebut.
Insight #5: Human Judgment Menjadi Skill yang Semakin Bernilai
Mungkin ini adalah temuan paling penting dari penelitian tersebut: AI tidak mengurangi nilai kontribusi manusia. AI justru mengubah dari mana nilai tersebut berasal.
Ketika ditanya tentang area di mana mereka masih memberikan nilai terbesar, karyawan secara konsisten menunjuk pada kemampuan berpikir kreatif, menyelesaikan masalah kompleks, menggunakan judgment, mengambil keputusan yang etis, dan membangun hubungan.
Di saat yang sama, 64% individual contributor percaya bahwa AI akan mengubah seperti apa performa yang dianggap baik dalam 12 bulan ke depan.
Hal ini terjadi karena AI menciptakan perubahan besar dalam cara pekerjaan dilakukan.
Selama puluhan tahun, keberhasilan seringkali diukur dari kemampuan kita menyelesaikan masalah dan menghasilkan jawaban. Sekarang, AI semakin mampu menghasilkan jawaban tersebut.
Skill yang semakin bernilai adalah kemampuan untuk mengevaluasi jawaban yang dihasilkan AI dan kemudian, dengan memanfaatkan pengalaman nyata, meningkatkan kualitasnya. Menentukan apakah jawaban tersebut akurat, etis, berguna, relevan, dan tepat untuk digunakan.
AI bisa menghasilkan informasi dalam hitungan detik. Manusia memberikan konteks, kebijaksanaan, akuntabilitas, dan judgment.
Masa depan dunia kerja bukan tentang manusia melawan AI. Masa depan dunia kerja adalah human judgment yang meningkatkan kualitas output AI.
Dengan kata lain:
AI menghasilkan jawaban. Manusia meningkatkan jawaban tersebut dengan cara yang tidak bisa diandalkan untuk dilakukan AI sendiri.
Bagi banyak karyawan, AI tidak hanya mengubah cara pekerjaan dilakukan. AI juga mengubah cara mereka melihat keahlian, nilai, dan kontribusi mereka sendiri.
Ketika AI mulai mengambil alih pekerjaan yang sebelumnya dianggap hanya bisa dilakukan manusia, pertanyaannya bukan lagi sekadar, “Apa yang bisa dilakukan AI?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Di mana manusia bisa menciptakan nilai terbesar?”
Tantangan AI yang Sebenarnya adalah Budaya
Penelitian kami mengarah pada satu kesimpulan yang lebih besar: masa depan AI di tempat kerja akan lebih banyak ditentukan oleh norma budaya yang dibangun organisasi daripada oleh teknologinya sendiri.
Karyawan mencari kepercayaan dalam keseluruhan ekosistem yang terdiri dari teknologi, proses, dan manusia yang mendukung penggunaan AI. Mereka membutuhkan ekspektasi yang jelas. Mereka membutuhkan leader yang memberikan contoh penggunaan AI secara bertanggung jawab. Dan mereka ingin diyakinkan bahwa kemampuan manusia yang tidak mudah digantikan teknologi seperti judgment, kreativitas, empati, coaching, dan koneksi tetap memiliki nilai.
Organisasi yang berhasil bukan hanya organisasi yang mampu menerapkan tools AI yang lebih baik.
Mereka adalah organisasi yang mampu menciptakan lingkungan di mana orang tahu bagaimana menggunakan AI, sekaligus tetap memberikan kemampuan manusia yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Karena semakin kuat AI berkembang, sisi manusia dalam pekerjaan justru menjadi semakin bernilai, bukan semakin tidak penting.