Bawahan Langsung Menghina Rekan Kerja? Tanyakan kepada Madeleine

Madeleine Homan Blanchard

Kepada Madeleine,

Beberapa waktu lalu saya masuk ke sebuah rapat online beberapa menit lebih awal. Beberapa bawahan saya secara langsung sudah lebih dulu bergabung, dan mereka tidak sadar kalau saya juga sudah masuk.

Tanpa sengaja, saya mendengar mereka membicarakan salah satu rekan kerja yang juga berada di bawah tanggung jawab saya. Jujur, saya kaget setengah mati. Mereka saling menguatkan pandangan politik yang sama, sambil merendahkan rekan yang berbeda pandangan. Mereka memanggilnya dengan kata-kata kasar, meremehkan kecerdasannya, bahkan sampai mengucapkan harapan akan hal-hal yang mengarah ke kekerasan. Cara mereka bicara benar-benar kejam dan tidak pantas.

Saya begitu terpukul sampai langsung keluar dari rapat, lalu masuk lagi seolah-olah sayabelum pernah ada di sana. Sekarang saya merasa bersalah dan pengecut. Apa yang mereka ucapkan jelas tidak bisa dibenarkan itu sudah masuk kategori ujaran kebencian yang rasis dan merendahkan.

Saya tidak tahu apakah mereka sadar bahwa saya sempat masuk dan mendengar semuanya. Di satu sisi, saya merasa kejadian ini harus dilaporkan ke HR. Tapi disisi lain, saya bingung dan sangat terganggu. Padahal, meskipun saya berbeda pandangan politik dengan mereka, saya tidak pernah mempermasalahkannya. Saya benar-benar tidak menyangka bahwa tiga orang ini menyimpan kemarahan dan sikap seburuk itu. Selama ini, mereka terlihat baik-baik
saja.

Saya berharap saya tidak pernah mendengar percakapan itu. Setelah kejadian ini, rasanya saya tidak akan pernah bisa memandang mereka dengan cara yang sama lagi. Tapi jujur saja,setelah mendengar apa yang mereka katakan, saya justru takut untuk membahas masalah ini secara langsung dengan mereka.
 
Apa yang seharusnya saya lakukan sekarang? Saya sudah mencoba curhat ke beberapa teman, tapi tidak ada saran yang benar-benar membantu. Bahkan ada yang menyarankan hal konyol seperti balas dendam. Di situlah saya makin bingung.
 

___________________________________________________________________________

Saya bisa membayangkan betapa beratnya situasi ini. Saya turut prihatin Anda harus melihat sisi dari bawahan langsung Anda yang sebenarnya tidak pernah ingin Anda ketahui. Sayangnya, kejadian ini tidak bisa begitu saja diabaikan, meskipun Anda sangat ingin melupakannya.
 
Langkah pertama yang paling masuk akal adalah berbicara dengan HR. Hampir pasti perusahaan punya aturan yang jelas soal perilaku yang boleh dan tidak boleh terjadi di tempat kerja. Perlu diingat, percakapan ini terjadi di platform milik perusahaan, di jam kerja,  dan bisa saja terdengar oleh siapa pun.
 
Kalau percakapan seperti ini terjadi di luar pekerjaan atau di ruang pribadi, ceritanya mungkin berbeda. Tapi karena ini terjadi di lingkungan kerja resmi, sebagai atasan Anda memang punya tanggung jawab untuk menindaklanjutinya.
 

Situasinya bisa jadi lebih serius kalau rekan kerja yang dibicarakan termasuk dalam kelompok yang dilindungi secara hukum. Di banyak tempat, ujaran kebencian atau pelecehan terhadap kelompok tertentu sama sekali tidak ditoleransi. Perusahaan bisa ikut terseret masalah, dan dampaknya bisa sampai ke sanksi berat atau pemutusan hubungan kerja apalagi kalau perilaku ini bertentangan dengan nilai perusahaan.

Apa pun langkah yang Anda ambil, libatkan HR sejak awal. Mereka bisa membantu Anda menentukan cara terbaik untuk menyikapi situasi ini, bahkan mendampingi Anda jika perlu. Saya juga menyarankan agar Anda berbicara dengan masing-masing orang secara terpisah, bukan bersama-sama. Atur waktunya berdekatan supaya mereka tidak sempat saling bicara duluan.

Wajar kalau Anda merasa takut, apalagi setelah mendengar pembicaraan yang mengarah ke kekerasan. Tidak ada orang yang ingin berada di posisi seperti ini. Jika nantinya memang ada konsekuensi nyata misalnya dicatat secara resmi atau bahkan sampai pemecatan rasa khawatir soal keselamatan diri sendiri memang perlu dipikirkan. Ini juga perlu dibicarakan terbuka dengan HR dan atasan Anda.

Saya tahu Anda berharap semua ini tidak pernah terjadi. Mungkin Anda juga sempat terpikir untuk mengabaikannya saja dan lanjut bekerja seperti biasa. Tapi faktanya, Anda sudah mendengarnya. Mau tidak mau, ini sudah menjadi bagian dari tanggung jawab Anda sebagai pemimpin.

Anda mungkin juga ingin mencoba “menyadarkan” mereka. Tapi sejujurnya, itu bukan tugas Anda. Anda tidak bertanggung jawab membentuk moral mereka. Dan tentu saja, balas dendam bukan jawaban. Perilaku buruk hanya akan menciptakan masalah baru dan akhirnya merugikan semua pihak.

Tugas Anda sebagai pemimpin sebenarnya sederhana: menegur perilaku yang tidak pantas ketika Anda melihat atau mendengarnya. Itu saja. Mintalah arahan yang jelas, lalu lakukan dengan tegas, jelas, dan tetap manusiawi. Banyak orang yang bersikap kasar justru akan mundur ketika ditegur secara langsung dan profesional.

Namun, saya juga perlu jujur. Anda sebenarnya bisa saja berpura-pura bahwa semua ini tidak pernah terjadi. Tidak ada yang tahu selain Anda. Tapi hanya Anda sendiri yang bisa menilai apakah pilihan itu sejalan dengan nilai pribadi Anda.

Tidak semua orang memilih untuk berdiri dan melawan. Tapi dari pengalaman saya, justruhal-hal yang kita pendam sendirilah yang lama-lama menguras energi dan semangat kita. Bisa jadi ini adalah momen penting dalam perjalanan Anda sebagai pemimpin. Pilihannya ada di tangan Anda. Saya hanya berharap, apa pun yang Anda putuskan, Anda tidak menyesalinya di kemudian hari.

Saya benar-benar menyesal Anda harus berada dalam situasi seperti ini. Saya tahu ini tidak mudah. Saya berharap Anda diberi kekuatan dan keberanian untuk mengambil keputusan terbaik bagi diri Anda dan tim Anda.

Salam hangat,
Madeleine

David Witt adalah Direktur Program Blanchard®. Dia adalah peneliti pemenang penghargaan dan pembawa acara seri webinar bulanan perusahaan. David juga menulis atau ikut menulis artikel di Fast Company, Human Resource Development Review, Chief Learning Officer, dan US Business Review.