Saya tidak akan pernah lupa pertama kali (dan satu-satunya) seorang klien menutup telepon
saya secara tiba-tiba.
Saat itu, hampir semua sesi coaching saya dilakukan melalui telepon. Klien tersebut sedang
menjelaskan berbagai masalah yang dihadapi bisnisnya dan semua alasan mengapa bisnis
itu akan gagal. Kami mencoba mencari berbagai solusi, tetapi setiap ide langsung ia tolak.
Akhirnya, saya berkata dengan nada netral, “Sepertinya Anda belum benar-benar
berkomitmen untuk melakukan apa yang diperlukan agar bisnis ini bisa kembali berjalan
dengan baik.”
Hening.
Lalu… telepon ditutup.
Saya terdiam, kaget, dan mulai menyalahkan diri sendiri. Saya pikir, dengan reaksi seperti
itu, saya pasti langsung kehilangan klien tersebut. Beberapa saat kemudian, telepon saya
berdering lagi. Saya mengangkatnya sambil sudah bersiap untuk meminta maaf.
“Tidak, tidak,” katanya. “Saya hanya merasa sangat marah. Dan saya tahu saya marah
karena Anda benar. Saya sadar selama ini saya berbohong pada diri sendiri. Saya
sebenarnya sudah lelah dan bosan, dan saya tidak cukup peduli untuk melakukan apa yang
perlu dilakukan.”
Dari situ, percakapan kami berubah. Kami mulai membahas langkah selanjutnya untuk
dirinya. Sekarang, setelah ia memahami apa yang benar-benar penting baginya, ia menjadi
sangat termotivasi untuk memulai babak baru.
Saat itu, saya masih cukup baru di dunia coaching. Saya memang tahu bahwa pertanyaan
yang tepat atau pengamatan tanpa menghakimi bisa membuka pemahaman baru. Namun,
saya tidak sedang menggunakan teknik tertentu saya hanya mengatakan apa yang terasa
jelas.
Dari pengalaman yang cukup menegangkan itu, saya belajar bahwa dengan sedikit lebih
hati-hati dan lebih tepat dalam menyampaikan, momen kesadaran itu bisa muncul tanpa
drama sebesar itu.
Di awal karier saya sebagai coach, banyak orang belum memahami apa yang saya lakukan.
“Oh, jadi kamu seperti motivator ya?” mereka bertanya.
Dan saya selalu menggeleng. Tidak.
Perbandingan itu justru menjadi hal yang berharga bagi saya. Hal ini membuat saya berpikir
lebih dalam tentang perbedaan antara coaching dan motivasi. Saya tidak akan
membahasnya panjang lebar, tetapi ada dua hal utama. Pertama, dalam coaching, orang
yang paling banyak berbicara adalah orang yang sedang dibimbing. Kedua, dan ini yang
paling penting, tidak peduli seberapa hebat atau benar seseorang, tidak ada yang bisa
benar-benar memotivasi orang lain.
Yang bisa kita lakukan hanyalah membantu seseorang menemukan motivasi yang
sebenarnya sudah ada dalam dirinya. Dan inilah yang dilakukan coaching dengan sangat
baik. Seperti yang terlihat dari pengalaman tadi, bahkan coaching yang tidak sempurna pun
tetap bisa memberikan dampak.
Mari kita bahas Motivasi.
Menurut Pierce J. Howard, penulis The Owner’s Manual for the Brain, “Motivasi adalah
kondisi ketika seseorang sedang mengejar suatu tujuan, sekecil atau sebesar apa pun.”
Kata “motivasi” sendiri berasal dari bahasa Latin movere, yang berarti “bergerak”.
Tujuan yang kita pilih biasanya mencerminkan siapa kita sebenarnya termasuk kepribadian,
kekuatan, minat, kebutuhan, dan nilai yang kita pegang.
Motivasi tidak muncul karena tekanan dari luar. Motivasi muncul karena seseorang memiliki
tujuan yang jelas dan keinginan yang kuat untuk mencapainya.
Dengan kata lain, motivasi harus datang dari dalam diri.
Klien yang menutup telepon saya akhirnya menyadari sesuatu.
Dalam kemarahannya, ia menyadari bahwa sebenarnya ia sudah mencapai tujuan yang
diinginkan. Tekanan yang ia berikan pada dirinya untuk terus melanjutkan bisnis tersebut
ternyata tidak sesuai dengan dirinya.
Ia menginginkan hal baru, tantangan baru, dan perubahan yang besar.
Masalahnya bukan karena ia tidak mampu menghadapi tantangan bisnisnya. Masalahnya
adalah ia memang tidak ingin melakukannya lagi.
Menyadari hal itu tidaklah mudah. Langkah berikutnya pun tidak langsung jelas, dan
membutuhkan waktu untuk direncanakan. Namun, ia menjadi benar-benar termotivasi. Dan
pada akhirnya, semuanya berjalan dengan baik.
Penelitian juga mendukung apa yang saya pelajari dari pengalaman tersebut.
Dr. Edward Deci, salah satu pencetus Self-Determination Theory, menemukan bahwa setiap
manusia memiliki tiga kebutuhan dasar:
● Autonomy (kebebasan) memiliki pilihan dan tidak merasa dikontrol secara
berlebihan
● Competence (kemampuan) kesempatan untuk belajar, berkembang, dan merasa
mampuRelatedness (keterhubungan) merasa terhubung dan menjadi bagian dari sesuatu
Selain itu, teori temperamen juga menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan
utama yang berbeda.
Bagi sebagian orang, motivasi bisa datang dari uang (yang bisa berarti keamanan, status,
kekuasaan, atau kebebasan). Bagi yang lain, motivasi bisa datang dari tantangan,
petualangan, pengaruh, atau dampak yang bisa mereka berikan.
Yang membuatnya lebih kompleks, motivasi biasanya merupakan kombinasi dari berbagai
kebutuhan dan nilai. Bahkan, seseorang bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk
benar-benar memahami apa yang membuat dirinya bersemangat.
4 Hal Penting untuk Pemimpin
1. Menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat
Semakin penting untuk memastikan setiap orang berada di peran yang sesuai
dengan dirinya. Di era pekerjaan saat ini, perusahaan membutuhkan kreativitas,
inisiatif, dan kemampuan berpikir yang baik. Karena itu, tidak semua orang cocok di
semua jenis pekerjaan.
Orang yang menyukai kebebasan dan variasi biasanya tidak cocok dengan
pekerjaan yang rutin dan berulang. Sebaliknya, orang yang lebih nyaman dengan
kepastian bisa merasa kesulitan jika harus terus berinovasi.
Sederhananya, setiap orang punya kekuatan yang berbeda. Anda tidak bisa
meminta semua orang melakukan hal yang sama dengan hasil yang optimal.
Namun, pada kenyataannya, masih banyak orang yang ditempatkan di posisi yang
tidak sesuai dengan karakter dan kekuatannya.
2. Libatkan tim dalam menentukan tujuan
Semakin seseorang dilibatkan dalam menentukan tujuan, semakin besar peluang
mereka untuk berhasil.
Hal yang sama juga berlaku pada cara mencapai tujuan tersebut. Ketika mereka
diberi ruang untuk menentukan langkahnya sendiri, biasanya mereka akan lebih
bertanggung jawab dan berusaha lebih maksimal.
Namun, kebebasan tanpa arahan juga bisa membuat seseorang bingung. Karena itu,
kejelasan tetap sangat penting.
3. Gunakan pendekatan coaching
Pendekatan coaching terbukti dapat meningkatkan motivasi, rasa aman dalam
bekerja, dan kemampuan beradaptasi.
Selain itu, pemimpin juga menjadi lebih efektif dan lebih mampu memahami serta
mengelola emosi.
Pada akhirnya, hal ini juga berdampak positif pada hasil bisnis secara keseluruhan.
4. Banyak orang belum tahu apa yang memotivasi mereka
Banyak orang menetapkan tujuan karena mengikuti tuntutan lingkungan atau
ekspektasi orang lain. Namun, dalam praktiknya, mereka sering baru menyadari
bahwa hal yang benar-benar membuat mereka bersemangat ternyata berbeda.
Di sinilah peran pemimpin menjadi penting. Pemimpin dapat membantu dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat, seperti:
● Bagaimana Anda tahu bahwa hari kerja Anda berjalan dengan baik?
● Apa yang membuat Anda berbeda, dan bagaimana hal itu terlihat dalam
pekerjaan Anda?
● Kekuatan apa yang ingin Anda gunakan lebih sering?
● Pekerjaan apa yang kurang Anda sukai, dan apa yang membuatnya terasa
melelahkan?
● Kapan Anda bisa bekerja sampai lupa waktu?
● Bagaimana Anda ingin diapresiasi, dan untuk hal apa?
● Apa yang sedang membuat Anda tertarik atau penasaran saat ini?
● Masalah seperti apa yang ingin Anda selesaikan?
● Apa yang perlu saya ketahui tentang hal-hal yang memotivasi Anda?
Motivasi bukan sesuatu yang bisa diciptakan oleh pemimpin. Motivasi perlu ditemukan dari
dalam diri masing-masing individu.
Ketika seseorang sudah terhubung dengan hal yang benar-benar penting bagi dirinya,
motivasi akan muncul dengan sendirinya.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang memaksa orang untuk bergerak, tetapi
tentang membantu mereka menemukan dorongan dari dalam diri mereka sendiri.