Hybrid yang Efektif

Oleh: David Witt

Persiapan Pemimpin di Lingkungan Hybrid

Menyiapkan manajer untuk memimpin di lingkungan kerja hybrid dimulai dengan pemahaman yang jelas: seperti apa bentuk model hybrid yang akan dijalankan, dan aturan baru apa yang akan berlaku. Hal ini disampaikan oleh pakar kerja virtual, John Hester.

Selain itu, penting untuk memahami dampak dari keputusan ini terhadap tim dan organisasi.

“Sekarang semakin banyak karyawan mencari pekerjaan yang sepenuhnya remote atau setidaknya hybrid,” kata Hester. “Perusahaan yang saya lihat sukses biasanya memberi keleluasaan kepada manajer untuk mengatur penerapannya di tim masing-masing.”

Menyusun Aturan yang Adil untuk Tim


Bagi seorang manajer, ini berarti harus mempertimbangkan hal-hal seperti:
● Apakah pekerjaan orang tersebut bisa dikerjakan sepenuhnya dari rumah atau tetap memerlukan kehadiran di kantor?
● Apa preferensi kerjanya?
● Bagian pekerjaan tim mana yang lebih efektif dilakukan tatap muka?

“Manajer perlu berdiskusi dengan tim, memahami kebutuhan pekerjaan, lalu membuat kesepakatan yang adil untuk semua,” jelas Hester.

Hindari memaksa semua orang masuk kantor sejumlah hari tertentu setiap minggu tanpa alasan yang kuat. Model hybrid bisa berjalan baik, tapi perlu dirancang dengan tujuan yang jelas

Berani Bereksperimen

Hester mendorong pemimpin untuk mencoba berbagai cara kerja. “Jangan takut bereksperimen. Kalau berhasil, lanjutkan. Kalau tidak, ubah atau hentikan.”

Salah satu contoh yang ia temui adalah tim yang setiap minggu memilih satu sore untuk bekerja bersama secara virtual—kamera menyala, lalu semua mengerjakan tugas masing-masing. Setelah beberapa menit, obrolan di chat mulai ramai dengan ide, pertanyaan, dan diskusi.

Untuk tim lain, pola yang efektif adalah briefing pagi selama 15 menit secara virtual, lalu briefing sore untuk menutup hari. Semua tergantung kebutuhan tim.

Soal jumlah hari ke kantor, Hester menyarankan mencoba beberapa skema, tapi dengan struktur yang jelas. “Kalau ingin meminta orang lebih sering hadir di kantor, pastikan punya alasan bisnis yang kuat dan mampu meyakinkan mereka. Kalau tidak, siap-siap menerima penolakan,” ujarnya.

Survei menunjukkan, lebih dari separuh responden akan langsung mencari pekerjaan baru jika diwajibkan kembali ke kantor penuh waktu.

Membangun Rasa Kebersamaan

Hester menyarankan mempertimbangkan sifat pekerjaan dan lama karyawan bekerja di perusahaan.

“Kalau memulai proyek jangka panjang, penting untuk mengadakan pertemuan tatap muka di awal. Gunakan momen itu untuk menyusun strategi sekaligus membangun hubungan. Setelah itu, pertemuan tatap muka bisa dilakukan sebulan sekali atau per kuartal. Dari pengalaman saya, pertemuan per kuartal adalah titik ideal—kalau anggaran memungkinkan.”

Ia mencontohkan pengalaman saat mengikuti program doktoral hybrid selama tiga tahun. Di awal, peserta bertemu selama tiga minggu untuk kuliah dan membangun ikatan. Setelah itu, interaksi online berjalan lancar tapi mulai menurun setelah tiga bulan. Enam bulan kemudian mereka bertemu lagi, dan pola itu terus berulang.

Tips untuk Pemimpin Tim

  1. Tetapkan ekspektasi yang jelas Kelola berdasarkan hasil kerja, bukan keberadaan fisik. Tentukan dengan jelas apa pekerjaannya dan seperti apa hasil yang dianggap baik. Bisa menggunakan spreadsheet yang memuat target, tugas, siapa mengerjakan apa, dan kapan harus selesai
  2. Hadir dan benar-benar terlibat Baik pemimpin maupun anggota tim perlu aktif, tidak hanya di rapat tapi juga di platform komunikasi seperti Teams atau Slack.
  3. Kuasai alat kerja digital Kalau perusahaan menggunakan Teams, kuasai semua fiturnya, termasuk aplikasi yang mendukung kolaborasi. Pastikan rapat virtual didesain interaktif.
  4. Buat rapat singkat dan terarah Setiap rapat harus punya tujuan dan agenda yang jelas, serta melibatkan semua orang. Jika hanya ingin menyampaikan informasi, cukup rekam video singkat
  5. Bangun kepercayaan dan rasa kebersamaan Bagi tim baru, lakukan onboarding secara tatap muka di minggu pertama, libatkan seluruh tim, dan ciptakan momen kebersamaan di luar pekerjaan.
  6. Perhatikan kesejahteraan anggota tim Model hybrid bisa membuat batas antara kerja dan kehidupan pribadi kabur. Pemimpin perlu mendorong anggota tim menjaga kesehatan fisik dan mental.
  7. Tetap fleksibel Hybrid bukan formula tetap. Terus evaluasi, coba hal baru, dan sesuaikan dengan kebutuhan tim.